Kamis, 18 Agustus 2011

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN MELALUI MEDIA GAMBAR BERSERI PADA SISWA KELAS V


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa memiliki peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial,dan emosional peserta didik dan penunjang keberhasilan peserta didik dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,mengemukakan gagasan dan perasaan, dan berpartisipasi dalam masyarakat dalam analitis yang ada dalam dirinya (Puskur Balitbang, 2006: 260).
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi. Komunikasi tersebut tentunya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan,serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra Indonesia. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, seseorang perlu belajar cara berbahasa yang baik dan benar. Cara tersebut akan lebih baik jika diajarkan sejak dini dan berkesinambungan.
Setiap peserta didik dituntut untuk mampu menguasai bahasa yang mereka pelajari terutama bahasa resmi yang digunakan oleh negara yang ditempati peserta didik. Begitu pula di Indonesia, bahasa Indonesia menjadi materi pelajaran yang diberikan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini dilakukan supaya peserta didik mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.Pada kurikulum, fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam masyarakat tampak semakin jelas.
Tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran menulis adalah agar peserta didik mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan pengetahuan serta memiliki kegemaran menulis. Secara umum tujuan pembelajaran menulis, yaitu peserta didik mampu mengomunikasikan ide atau gagasan atau pendapat secara tertulis maupun sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan,pengalaman hidup, ide, imajinasi dan lain-lain (Mujianto, dkk., 2000: 70). Melalui pembelajaran menulis diharapkan peserta didik tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan membuat karangan, tetapi juga diperlukan kecermatan untuk membuat argumen, dan kemampuan untuk menuangkan ide-ide dengan cara membuat karangan yang menarik untuk dibaca. Peserta didik juga harus dapat menyusun dan menghubungkan antar kalimat yang satu dengan yang lain menjadi karangan yang utuh. Menulis merupakan satu bentuk keterampilan berbahasa yang paling akhir setelah mendengarkan, berbicara, dan membaca. Dibandingkan dengan ketiga kemampuan berbahasa yang lain, kemampuan menulis lebih sulit untuk dikuasai oleh penutur asli bahasa yang bersangkutan sekalipun.
Hal itu disebabkan kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsure kebahasaan dan unsur diluar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi karangan (Nurgiantoro, 2001: 296). Jika dalam,maka keterampilan berbicara orang harus menguasai lambang-lambang bunyi, kegiatan menulis menghendaki orang untuk menguasai lambang atau simbol visual dan tata tulis, khususnya yang menyangkut ejaan. Unsur situasi dan paralinguistik yang sangat membantu komunikasi dalam berbicara, tidak dapat dimanfaatkan dalam menulis. Kelancaran komunikasi dalam suatu karangan sama sekali bergantung pada bahasa dilambangkan visual.
Komunikasi lewat lambang tulis dapat dipahami dengan baik, penulis hendaklah menuangkan gagasannya ke dalam bahasa yang tepat teratur, dan lengkap. Dalam hubungan ini, sering didengar adanya ”bahasa yang teratur merupakan cerminan pikiran yang teratur juga”. Keterampilan menulis memang menjadi satu keterampilan berbahasa yang paling sulit untuk dikuasai. Hal ini disebabkan adanya dua unsur yang harus dikuasai oleh penulis, yaitu unsur bahasa, seperti ejaan, stuktur kalimat, kohesi, dan koherensi, serta unsur non bahasa yang dijadikan ide atau gagasan dalam sebuah tulisan yang meliputi pengetahuan dan pangalaman penulis. Pada umumnya, peserta didik mengalami hambatan ketika diberi tugas oleh guru untuk menulis. Mereka mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat dan kurang menguasai tata bahasa. Kesulitan-kesulitan tersebut menyebabkan mereka tidak mampu menyampaikan pikiran dan gagasan dengan baik sehingga peserta didik menjadi enggan untuk menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar